Aeroponik berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponik atau ponus yang artinya daya. Aeroponik merupakan salah satu tipe budidaya menanam tumbuhan tanpa tanah. Pada budidaya tanam aeroponik, akar tanaman dibiarkan tumbuh menggantung di udara. Kemudian air yang berisi larutan zat hara disemprotkan atau disemburkan dalam bentuk kabut sampai mengenai akar tanaman tersebut. Air dan zat tersebut disemprotkan dengan menggunakan alat irigasi sprinkler. Selanjutnya, akar yang menggantung akan menyerap zat hara yang dalam bentuk kabut (Prasdianata, 2013).
Penggunaan sprinkler dapat menjamin ketepatan waktu penyiraman, jumlah air dan keseragaman distribusi air di permukaan tanah secara terus-menerus selama produksi tanaman. Cara tersebut menciptakan uap air di udara sekitar tanaman serta menurunkan suhu sikitar daun dan mengurangi evapotranspirasi (Prasdianata, 2013).
Sistem aeroponik memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh sistem hidroponik lainnya, yaitu tanaman lebih mudah menyerap nutrisi karena berukuran molekul kecil (Trubus, 2013).
Perkembangan sistem hidroponik khususnya aeroponik yang terbaru adalah instalasi aeroponik vertikal. Sebuah sistem budidaya aeroponik yang penempatannya secara vertikal sejajar memungkinkan untuk budidaya tanaman di sebagian kecil ruangan (Luebbers dkk, 2012). Pertumbuhan tanaman dengan sistem aeroponik vertikal ini memiliki hasil yang baik karena respirasi akar lancar dan menghasilkan banyak energi untuk pertumbuhan tanaman. Kebutuhan terhadap oksigen bagi sistem perakaran tanaman diperoleh dari sebagian akar yang tidak terkena semburan kabut larutan nutrisi (Morgan, 2000).
Faktor penting yang perlu diperhatikan didalam budidaya aeroponik antara lain yaitu : unsur hara, suplai oksigen, dan suplai air. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas unsur hara dalam budidaya aeroponik adalah Electrical Conductivity (EC). EC adalah ukuran dari jumlah garam yang terlarut dalam larutan nutrisi atau kepekatan pupuk dalam larutan hidroponik (Karsono dkk, 2002). Nilai EC dalam larutan mempengaruhi metabolisme tanaman, yaitu dalam hal kecepatan fotosintesis, aktivitas enzim, dan potensi penyerapan ion-ion oleh akar. Kepekatan larutan nutrisi juga akan menentukan lama penggunaan larutan nutrisi dalam sistem aeroponik (Sutanto, 2002). Oksigen tetap diperoleh tanaman dari oksigen yang terlarut dalam larutan nutrisi, tetapi sebagian besar oksigen yang diserap tanaman diperoleh dari akar yang tidak terkena semburan kabut larutan nutrisi. Sedangkan sebagian akar yang terkena semburan kabut larutan nutrisi, menyerap unsur hara dan air yang diperlukan oleh tanaman. Sehingga oksigen, air, dan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dapat terpenuhi untuk pertumbuhan tanaman secara normal. Gangguan akar berupa kekurangan oksigen dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman yang tidak sempurna serta menyebabkan menurunnya hasil panen (Rahma P. dkk, 2015)
Aeroponik dapat bermanfaat untuk menanam komoditi sayuran. Sayuran hasil budidaya dengan sistem aeroponik memiliki kualitas yang baik, sehat, hiegenis, sehat, dan segar. Sayuran yang ditanam secara aeroponik adalah sayuran yang beratnya ringan dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Beberapa tanaman yang ditanam menggunakan sistem aeroponik adalah selada, kentang, sawi, dan beberapa sayuran lainnya. Sistem ini dapat meningkatkan produktivitas, kualitas, dan kontinyunitas produk pertanian.
Teknik aeroponik membantu lingkungan dengan menghemat air, mengurangi jumlah tenaga kerja manusia, meringankan pertumbuhan patogen berbahaya bagi tanaman, dan hanya memerlukan sedikit lahan untuk membudidayakan tanaman (Prasdianata, 2013).
DAFTAR PUSTAKA
Morgan, L. 2000. Are Your Plants Suffocating? The Importance of Oxygen in Hydroponics. The Growing Edge, Vol. 12(6): 50 – 54.
Prasdianata,
Redy. (2013). Budidaya Sayuran Dengan Sistem Aeroponik. Diakses melalui http://WEB-INF.prmob.net/views/ltr/article.jspx
Pusdima Rahma Pratiwi. 2015. Pengaruh Tingkat EC (Electrical Conductivity) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica Juncea L.) Pada Sistem Instalasi Aeroponik Vertikal.. Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati : Bandung.
Trubus. 2013. Teknik Tanam Tanpa Tanah. No. 529 Edisi Desember 2013/XLIV. h. 20 – 23.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar