BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pengertian Strategi Sehat “ARTERI”
“ARTERI”
merupakan kepanjangan dari Anti Rokok, TEratur berolahraga, Rajin mengonsumsi
makanan rendah lemak, dan Imbangi dengan doa. Strategi ini penting karena
seringkali masyarakat mengabaikan pola hidup sehat yang sederhana dan cenderung
mengikuti trend pola hidup instan, sehingga menyebabkan masyarakat mudah
terserang penyakit seperti penyakit jantung koroner. Pencegahan penyakit sejak
usia dini perlu dilakukan sebelum terjadi perubahan yang irreversibel pada
dinding pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner.
Rokok
adalah salah satu hasil olahan tembakau dengan menggunakan bahan ataupun tanpa
bahan tambahan.1 Merokok sekarang dianggap sebagai sesuatu yang
trend sehingga perilaku merokok belakangan ini banyak digandrungi oleh
anak-anak muda sampai orang dewasa. Namun, sebenarnya merokok dapat menyebabkan
banyak masalah kesehatan salah satunya adalah penyakit jantung koroner. Oleh
karena itu, kebiasaan merokok perlu dicegah melalui strategi “Anti Rokok”
dimana para masyarakat dibina untuk menjauhi rokok serta diberikan edukasi
kesehatan melalui poster dan brosur serta iklan larangan merokok. Untuk
masyarakat yang sudah terlanjur merokok diperlukan pendekatan populasi atau kesehatan
masyarakat yaitu dengan menghilangkan kebiasaan merokok melalui farmako terapi.
Hal tersebut dilakukan dengan cara memberikan nikotin bukan melalui rokok yang
disebut dengan nicotine replacement therapy.2 Terapi ini dapat dilakukan dengan mengganti rokok dengan menggunakan
permen karet nikotin. Permen karet nikotin mengandung nikotin yang
terikat pada kompleks resin. Nikotin permen karet tersedia dalam dua dosis
yaitu 2 mg dan 4 mg. Bagi orang yang merokok lebih dari 20 batang per hari
dapat menggunakan sediaan 4 mg dan bagi orang yang merokok kurang dari 20
batang per hari dapat menggunakan sediaan 2 mg. Pengguna sediaan ini
diinstruksikan untuk menggunakan permen karet tiap 1-2 jam pada 6 minggu
pertama, lalu dikurangi tiap 2-4 jam selama 3 minggu, dan tiap 4-8 jam selama 3
minggu.2
Seiring perkembangan teknologi dan transportasi,
masyarakat cenderung mengabaikan olahraga. Padahal olahraga merupakan salah
satu upaya yang penting dilakukan untuk memperlancar metabolisme tubuh. Kurang
berolahraga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung koroner. Olahraga tidak hanya
bermanfaat bagi orang sehat, tapi juga terbukti baik bagi yang telah menderita
penyakit jantung dan telah mengalami perawatan. Oleh karena itu, diperlukan
strategi sehat “TEratur berolahraga”. Perlu diingat bahwa penderita jantung
pasca perawatan atau serangan jantung tidak boleh berlatih sembarangan tanpa
pengawasan ahli yang menentukan program yang sesuai untuk dirinya. Melalui
olahraga yang teratur yang bersifat aerobic (jalan, lari, berenang, naik
sepeda) dapat meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru. Hal ini
memungkinkan seseorang tidak merasa lelah dan akan melebarkan pembuluh darah
jantung (arteri koronaria)
sehingga aliran darah lebih lancar, menurunkan kadar kolesterol dalam darah,
menurunkan tekanan darah, yang merupakan faktor-faktor utama PJK.3
Di bawah ini ada contoh bentuk latihan program jalan
kaki yang dimodifikasi oleh dr. Knneth Cooper yang telah dipakai oleh Klub
Jantung Sehat sejak 1978. Setidaknya mereka yang melakukannya dapat
mempertahankan tingkat kebugaran jasmani, berikut langkah-langkahnya adalah (1)
Jalan kaki, 6,4 km dalam waktu 55 – 60 menit, 4 kali seminggu, (2) Jogging, 4,8
km dalam waktu 28 – 30 menit, 2-3 kali seminggu, (3) Lari 2,4 km dalam waktu 12
-15 menit, 2 x seminggu.3
Masyarakat
modern cenderung mengonsumsi makanan cepat saji yang memiliki kandungan lemak tinggi.
Hal tersebut dapat merubah status gizi masyarakat dan membawa konsekuensi
terhadap obesitas dan penyakit degeneratif seperti diabetes dan jantung
koroner.4 Dalam upaya
strategi sehat “Rutin mengonsumsi makanan rendah lemak” peranan pola makan
sehat berimbang dan rendah lemak sangat penting. Makanan yang mengandung asam
lemak tak jenuh ganda dan tak jenuh tunggal umumnya berasal dari makanan
nabati, kecuali minyak kelapa. Makanan sumber asam lemak jenuh umumnya berasal
dari hewan. Mengkonsumsi lemak hewani secara berlebihan dapat menyebabkan
penyempitan pembuluh darah arteri dan penyakit jantung koroner. Namun dianjurkan
untuk mengonsumsi ikan karena dapat mengurangi risiko menderita penyakit
jantung koroner, hal ini disebabkan lemak ikan mengandung asam lemak omega 3.
Asam lemak omega 3 berperan mencegah terjadinya penyumbatan lemak pada dinding pembuluh
darah.4 Selain itu kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji harus
dihindari. Sangat disarankan untuk mengosumsi makanan seperti karbohidrat,
protein, buah-buahan dan sayur-sayuran. Selain itu jadwal makan perlu diatur
seperti waktu makan 5-6 kali per hari dengan 3 kali makanan utama dan 2-3
snack. Pengaturan waktu sangat penting untuk menjaga asupan yang dibutuhkan
tubuh dapat terpenuhi seperti mengonsumsi makan pagi pada pukul 6.30, kemudian
snack atau buah pada pukul 9.30, makan siang pada pukul 12.30, dilanjutkan
dengan snack atau buah pada pukul 15.30 atau 16.00, makan malam pada 18.30 atau
20.00 dan snack pada pukul 21.15 atau 21.30.5 Untuk anak-anak
berusia
2 tahun tidak dianjurkan mengurangi lemak dan
kolestrol dalam makanan oleh karena berlangsung proses tumbuh kembang yang
cepat.2,19,20,21 Untuk anak-anak yang berusia lebih dari 2 tahun dianjurkan
untuk mengikuti pola makan seperti berikut: (1) Gizi yang adekuat harus dicapai
dengan memakan makanan yang bervariasi. (2) Kalori yang adekuat harus tersedia
untuk pertumbuhan dan perkembangan yang normal. (3) Masukan lemak total tidak
melebihi 30% dari total kalori makanan. (4) Asam lemak jenuh kurang dari 10%
terhadap total kalori makanan (5) Masukan kolesterol harus kurang dari 300 mg,
per hari.6
Stress
merupakan salah satu faktor yang dapat memicu penyakit jantung koroner karena
stress dapat memperkuat aliran darah ke jantung, meningkatkan adrenalin
sehingga tubuh akan merespon dengan menurunkan kadar HDL sehingga lemak darah
menjadi tinggi.7 Stress sebenarnya berakar dari perasaan tertekan
akibat beban hidup dan permasalahan berat yang tidak kunjung menemukan jalan
keluar. Jadi, sangat penting untuk mencegah agar stress tidak terjadi melalui
strategi sehat “Imbangi dengan doa”. Cara untuk mencegah dan mengurangi stress
dapat dilakukan dengan melakukan yoga. Yoga merupakan sistem kebudayaan
holistik yang berasal dari Ayurveda yang sudah terbentuk pada zaman India kuno
sejak 3.000 SM lalu.8 Sistem yoga merupakan kombinasi antara
gerakan, cara bernapas serta meditasi untuk menenangkan pikiran. Persiapan awal
untuk beryoga adalah dengan mengenakan pakaian yang longgar (tidak menghalangi
napas dan gerak), tidak mengenakan alas kaki, menyiapkan matras atau karpet,
tidak menggunakan perhiasan dan lensa kontak, kosongkan perut (kira-kira tunggu
3 jam sesudah makan), dan bersihkan diri atau mandi agar tubuh bersih dan
segar. Kemudian yoga diawali dengan Asana (posisi/sikap yoga seperti duduk
bersila atau berbaring). Kemudian lakukanlah Pranayama (olah napas) dimulai
dari menghirup udara perlahan, tahan sejenak dan rasakan udara mengalir didalam
tubuh, lalu keluarkan perlahan lewat hidung. Lakukan secara lembut dan
perlahan. Jangan memaksa tubuh merentang terlalu jauh apabila anda baru mulai
berlatih. Usahakan untuk selalu berkonsentrasi pada anggota tubuh dan
menyelaraskan gerak, napas serta pikiran.8
Daftar
pustaka
1.
Triana, Nanin, dkk. Gambaran Hisologis Pulmo Mencit Jantan Setelah
Dipapari Asap Rokok Elektrik. 2011
2.
Gayatri,
Anggi, dkk. Nicotine Replacement
Therapy. 2012
3.
Farida M. Penderita
Jantung Menjadi Bugar Melalui Olahraga. 2008
4.
Hera Nurlita. Pola Makan
Bergizi Seimbang untuk Penyakit Jantung.
Diakses melalui http://indonesia.digitaljournals.org/
index.php/idnmed/article/download/842/841
Pada tanggal 23 Desember
2015.
5.
Fiastuti W. Peran Diet
untuk Mencegah Penyakit Jantung Koroner. diakses melalui http://www.gizikia.depkes.go.id/artikel/pola-makan-bergizi-seimbang-untuk-penyakit-jantung/?print=pdf
pada tanggal 24 Desember 2015
6.
Abdullah
A.S. dan Elya Nova L. Penyakit Jantung Koroner Pada Anak dan Pencegahannya.
2009.
7.
dr
Sintoso Pujianto. Sehat Itu Enak dan Perlu. Kompas Gramedia. 2011
8.
Pujiastuti
Sindhu. Panduan Lengkap Yoga untuk Hidup Sehat dan Seimbang. 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar